Archive for the ‘fiqih’ Category

Perjalanan Menuju Hari “esok”

Bismillah,…
Setiap kita, dalam kesehariannya, berjalan menuju Rabbnya,..dan ia memiliki tujuan yang pasti akan dia tempati… maka, sekiranya ia benar-benar memperhatikan hal tersebut, bahwa ia akan berjumpa dengan Sang Penciptanya,maka hendaknya dia berusaha menjadikan Rabbnya, ridha terhadapnya… dan benar-benar mampu menjadikan dunia tempat ia berpijak ini, sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan yang hakiki…

Saudaraku fillah,..

Ketahuilah, bahwa ketika engkau menyia-nyiakan waktu yang ada ini, bearti hal tersebut lebih buruk daripada kematian,.. karena, kematian hanya memutus engkau dari dunia dan penduduknya,.. tetapi menyia-nyiakan waktuberarti telah memutusmu dari Allah dan negeri Akhirat… (nas alullaha salamanwal afiyah)…

Al Imam Hasan Al Bashri rahimahullah:
ابن آدم، انّما أنت أيّام وكلّما ذهب يوم ذهببعضك

“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian darimu” (Az Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal, 374)

dunia ini, yang kita tempati,.. tiada sebanding dengan kesedihan di negeri“esok”… lalu bagaimana kiranya jika kesedihan di hari “esok” ituberlama-lama??? Atau bahkan kekal abadi selamanya??

Sebuah keberuntungan yang sangat besar, ketika engkau mampu menjadikan setiap harimu menjadi hal yang bermanfaat bagi akhiratmu nanti…karena orang yang berakal adalah dia yang tidak mau menukar kenikmatan sesaatdengan kenikmatan yang abadi selamanya…

والاخرة خير وّابقى

Saudaraku fillah,..
Takutlah terhadap MurkaNya, AdzabNya.. dan berharaplah terhadap rahmatNya…
karena ketika kita mampu mejadikan Takut kepada Allah dalam setiap keadaan,maka kita akan merasa tenteram, dan akan terus berusaha mendekat kepadaNya..yakni dengan Ilmu, yang membuahkan keikhlasan dalam beramal shalih dan dalamketaatan…

Masruq bin Ajda’ bin Malik (Tabiin W. 63 H) rahimahullahberkata:

بحسب لامؤمن من الجحل أن يعجب بعمله،وبحسب المؤمن من العلم أن يخشى اللّه

“Cukuplah seorang mukmin itu dikatakan bodoh bila dia merasa takjub dengan amalannya, dancukuplah seorang mukmin itu dikatakan berilmu bila ia takut kepada Allah azzawa jalla” (Sifatush Shafwah, Ibnul Jauzy, III/25)

Seandainya ilmu itu dapat bermanfaat tanpa adanya amalan shalih,.. tentunya Allah ta’ala tidak akan mencela Ahlul Kitab, yang dia tidak mengamalkan ilmu yang dia peroleh,.. dan sekiranya amal itu bermanfaat tanpa adanya keikhlasan,.. maka tentunya Allah azza wa jlla tidak akan mencela kaum munafik,..

Saudaraku fillah,..

bersamaan dengan hal tersebut,.. saya wasiatkan:

untuk menjauhi berbagai dosa dan kemaksiatan,.. dan berbagai sarana-sarana yang mampu mengarahkesana,.. dan lawanlah apa yang terbesit sedikit saja di dalam hatimu; berupakeinginan berbuat dosa tersebut… karena jika tidak, IA AKAN MENJADI PIKIRAN…

lawanlah pikiran tersebut, karena jika tidak, IA AKAN MENJADI SYAHWAT…

lawanlah syahwat tersebut, wahai saudaraku fillah,… karena jika tidak, IA AKAN MENJADI KEBULATAN TEKAD…

lawanlah kebulatan tekad tersebut,… karena jika tidak, IA AKAN BERUBAH MENJADI TINDAKAN NYATA…

Al Imam Hasan Al Bashri rahimahullahu ta’ala berkata:

إنّ المؤمن لا يسبح إلاّ خا ئفا ولا يصلحه إلا ذاك، لأنّهبين ذنبين: ذنب مضى لا يدري كيف يصنع اللّه فيه، وآجل، أو قال: آخر لا يدري ما كتبعليه فيه.

“Sesungguhnya seorang mukmin tidak memasuki waktu pagi, melainkan dalam keadaan takut, dan memang seharusnya demikian, karena dia diantara dua dosa; Dosa yangtelah lalu, dimana dia tidak mengetahui apa yang akan Allah ta’ala perbuat atasdosa tersebut, dan Dosa yang akan datang, dimana dia tidak mengetahui apa yang telah Allah ta’ala tetapkan karena dosa tersebut”.

(Az Zuhud, Imam ahmad binhanbal 375)

Maraji’:

Al Fawaid, Ibnu Qoyyim al Jauziyyah.

Az Zuhd, Imam Ahmad Bin Hanbal

Shifatush Shafwah, Ibnul Jauzy

Demikianlah, Semoga kita bisa mengambil pelajaran…

و كتب، الرّا جي عفوربّه الغفور، أبوعبدالمحسن محمّد طارق

غفرالله له ولوالديه ولجميع المسلمين

Iklan

PETAKA ITU BERNAMA UJUB

Bismillah…

berhati-hatilah terhadap perangkap Iblis,…korban dari godaan ini begitu banyak,.. salah satunya adalah;

IA YANG MENYUKAI PUJIAN BERSIFAT TINDAKAN!

ada yang datang dari sisi tersebut, ada pula yg datang dari sisi KECINTAAN KEPADA PUJIAN YANG BERUPA PERKATAAN!,..

dia yang dipuji, sadar benar, dia lebih tahu hakekat tentang diri mereka sendiri,..

tetapi panah UJUB, telah merasukinya, dia telah tertipu,.. dia telah terlena!

ada sebagian kita yang dia tampil seakan-akan sebagai pemberi nasehat yang dipercaya, yang mengetahui adab dunia dan agama.

Lihatlah pada diri kita,..apakah kita termasuk menjadi orang yang senang, membusung dadanya, tersenyum-tersenyum sendiri, ketika apa yang kita utarakan entah berbentuk tulisan atau ucapan mendapatkan PUJIAN???

tetapi ketika yang menghampiri kita berupa kritikan, nasehat, maka keadaan akan berubah drastis…

dada akan terasa sesak, nafas tersenggal,… sehingga berujung pemutusan hubungan pertemanan (entah itu di dunia ata di dunia maya)…

setiap orang diantara kita, bahkan akan memujinya, menyematkan kata kata sanjungan,.. seakan-akan mereka hanya melihat kebaikan-kebaikan,..

ketahuilah, jurang perangkap Iblis bisa berawal pula dari sini,… sehingga perangkap ujub menjebak kita…

alhasil, segala apa yang hendak diutarakan, orientasinya adalah keridhaan manusia,.. karena telah terkena perangkap syahwat tersebut…

 

Saudaraku, pahamilah perkataan para salafuna Shalih terdahulu ini, barangkali bisa menjadi secerah nasehat..

Fudhail Ibn Iyadh rahimahullah: ” Sesungguhnya diantara tanda orang MUNAFIK adalah MENYUKAI PUJIAN KARENA SESUATU YANG TIDAK ADA PADA DIRINYA, dan MEMBENCI KRITIKAN KARENA SESUATU YANG ADA PADA DIRINYA, SERTA MEMBENCI ORANG-ORANG YANG MENGETAHUI DENGAN MATA KEPALANYA” ((Al Akhfiya’ 155)

Bisyr Ibn Al Harits rahimahullah: “Orang yang menyukai popularitas, bearti bukan orang yang bertaqwa kepada Allah ta’ala” (Nuzhat al Fudhala’)

Ibnul Jauzy rahimahullah: “Jujurlah dalam batinmu niscaya engkau akan melihat apa yang engkau sukai menurut lahirnya” (Al Bilal, Minhaj at tabi’in)

Yusuf Ibn Asbath rahimahullah: “Tiada sesuatu yang benar-benar ingin diselesaikan oleh orang yang beribadah, selain menghindari kesukaan dipuji, dan menginginkan sanjungan manusia” (Dzamm Ar Riya’)

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah: “Jika engkau tdk ujub terhadap dirimu sendiri, maka janganlah engkau menyukai pujian manusia. Karena dengan pujian mereka itu, berarti engkau suka jika mereka memuliakan dirimu karena amalmu, dan merekapun melihat adanya kedudukan dan kemuliaanmu yang terpatri di dada mereka” (Shara’i al Mada’ih Al Khams) 

Abdullah bin Mubarak juga pernah berkata, ‘Jadilah orang yang  menyukai status tersembunyi (tidak terkenal) dan membenci popularitas. Namun jangan engkau tampakkan bahwa engkau menyukai status tesembunyi itu sehingga menjadi tinggi hati. Sesungguhnya klaim sebagai orang zuhud yang berasal dari dirimu sendiri, justru mengeluarkanmu dari kezhuhudan itu sendiri. Karena dengan cara itu, kamu telah menarik pujian dan sanjungan untuk dirimu.’ (Shifat ash Shafwah)

Saudaraku fillah…Sungguh Allah Azza wa jalla menyukai orang-orang yang bertaqwa, dan gemar melakukan amalan shalih..

yang mana bila ia tidak hadir, ia tidak dicari,…

jika ia hadir, ia tidak dikenal ataupun diperhatikan

 

mereka adalah pelita petunjuk yang keluar dari tempat yang gelap..

karena jika apa yang menjadi tujuanmu adalah mencari keridhaan Allah ta’ala,..

maka, kuatkan tekadmu untuk mentaati Allah azza wa jalla,.. dan bertaqwalah engkau kepadaNya, dalam keramaian, ataupun kesendirianmu…

Lihatlah betapa uwais Al Qorony rahimahullah dikenal oleh penghuni langit, tetapi beliau tidak dikenal oleh penghuni bumi,… jadilah sepertinya…

sehingga penyakit ”Ujub akan dengan mudah kita tepis (biidznillah)…

Wahib ibn Al Ward rahimahullah: “janganlah engkau mencaci Iblis secara terang-terangan tetapi engkau menjadi temannya secara sembunyi-sembunyi, apakah engkau ingin mencari pujian di hadapan manusia? sementara engkau dicela Rabb Manusia? apakah engkau ingin dicintai penghuni bumi, sementara penghuni langit membencimu??” (Shifat ash Shafwah) 

Yaa Allah sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari kejahatan diri kami. Yaa Allah, sucikanlah hati kami dari kemunafikan dan amal kami dari riya’

refrensi:

Al Akhfiya’Walid ibn Sa’id bahakam

DUA JENIS WANITA

Wahai pemuda, ketika engkau keluar dari rumahmu, engkau akan menjumpai dua jenis wanita:
Wanita yang pertama adalah yang telah tercemari Virus Imro’atul azis (istri Raja)*1 yang menampakkan perhiasannya, semerbak bau minyak wangi tercium harum darinya, seakan-akan ia mengatakan kepadamu: “kemarilah engkau wahai para pemuda…”

Maka dalam kondisi seperti ini, contohlah sikap Nabi Yusuf alaihi salam, palingkan pandanganmu seraya engkau mengucapkan:ma’aadza-llahi (aku berlindung kepada Allah).

Jenis wanita yang kedua, adalah wanita yang menjaga diri dan kehormatannya, ia berjalan dengan penuh rasa malu, keluar rumah disebabkan kebutuhan yang memaksa ia harus keluar dari rumahnya…

Jika engkau wahai pemuda melihatnya seperti pada saat ia naik bus, maka tirulah sebagaimana sikap nabi Musa alaihi salam, bantulah ia, berdirilah dan suruhlah ia duduk di tempat dudukmu KEMUDIAN BERPALINGLAH DARINYA…*2

Jika engkau melakukan yang demikian, maka kabar gembira telah menantimu dengan kebaikan,…

lihatlah bagaimana nabi yusuf alaihi salam ketika beliau menjaga diri dan kehormatanya akhirnya Allah azza wa jalla menjadikannya sebagai penguasa setelah sebelumnya ia seorang budak.

Begitu juga sifat mulia lagi suka membantu yang dimiliki nabi Musa alaihi salam, yang dengannnya Allah ta’ala memberikan kepadanya seorang istri, kedudukan dan tempat tinggal padahal sebelum itu ia adalah seorang yang paling fakir.

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

*1 Wanita yang tercantum dalam QS Yusuf yang ingin menggoda Nabi Yusuf Alaihis salam
*2 Silahkan baca QS Al Qashash ayat 22 dan seterusnya.

Maraji’ : Adz Dzakiroh al islamiyah Hal. 83

Madrasah Ramadhan

bismillah,... #SAFARI DAKWAH ELFATA hadir di YOGYAKARTA dengan tema: MERAIH KEMULIAAN DI BULAN MULIA dengan pemateri Ust. Ahmad Wahyudi BA (alumn madinah international university) Muhammad Abu Abdilmuhseen Insya Allah SENIN 8 JULI 2013 atau 29 sya'ban 1434h jam 08.00 - selesai di MASJID MUJAHIDIN - Kampus UNY Yogyakarta Info: 085726537112 insya Allah disediakan gratis: MAJALAH ELFATA & Buku Panduan RAMADHAN (karya Ust Muh. Abduh Tuasikal) ------------->> terbatas 250 GRATIIIIIIS DAN UNTUK UMUM Acara Ini diselenggarakan oleh Forum Muslim UNY dan FKIM Yogyakarta dan MAJALAH ELFATA

bismillah,…
#SAFARI DAKWAH ELFATA hadir di YOGYAKARTA
dengan tema:
MERAIH KEMULIAAN DI BULAN MULIA
dengan pemateri
Ust. Ahmad Wahyudi BA
(alumn madinah international university)
Muhammad Abu Abdilmuhseen
Insya Allah
SENIN 8 JULI 2013
atau 29 sya’ban 1434h
jam 08.00 – selesai
di MASJID MUJAHIDIN – Kampus UNY
Yogyakarta
Info: 085726537112
insya Allah disediakan gratis: MAJALAH ELFATA & Buku Panduan RAMADHAN (karya Ust Muh. Abduh Tuasikal) ————->> terbatas 250
GRATIIIIIIS DAN UNTUK UMUM
Acara Ini diselenggarakan oleh Forum Muslim UNY dan FKIM Yogyakarta dan MAJALAH ELFATA

Perayaan Maulud Nabi adalah SYi’ar Islam [?]

Bismillah
pernyataan tentang berbagai acara, Perayaan maulud nabi, perayaan isra’ mi’raj ataupun perayaan malam nisfu sya’ban, seringkali disebut-sebut sebagai salah satu bentuk dari Syi’ar Islam. Benarkah demikian?
Sebelum melakukan pembahasan diatas, perlu bagi kita untuk mengetahui apa itu syi’ar. Syi’ar menurut bahasa adalah lambang atau tanda. Bearti Syiar Islam adalah: lambang atau tanda dari ajaran Islam / Ibadah yang didasari dari ajaran Islam.

Menilik dari pernyataan diatas, bearti, Majelis Taklim, Masjid, Berpakaian Sunnah, Shalat berjamaah, membaca Al Qur’an merupakan pula dari salah satu Syi’ar Islam.

Saudaraku Fillah…
Tetapi ketika kita melihat kembali terhadap acara-acara seperti perayaan Maulud Nabi, Perayaan Isra’ mi’raj ataupun perayaan malam nishfu sya’ban, meski nanti didalamnya terdapat kajian-kajian yang apabila dilakukan secara normal bisa menjadi Syi’ar Islam, tetapi perayaan-perayaan tersebut tetap bukanlah sebuah perayaan yang yang disyari’atkan dalam agama ini, bahkan para Ulama telah menjelaskan tentang kebid’ahan acara-acara tersebut. Maka, bagaimana kiranya sebuah Acara Bid’ah menjadi SYIAR dalam agama Islam?!?

Saudaraku Fillah…
Berbagai bentuk amaliah yang disana tidak ditopang dalil Shahih yang mensyariatkannya, tidak akan bisa menjadi Syi’ar Islam, meski dicantumkan Label Islami besar-besaran. Karena, Syiar Islam baru absah, jika telah relevan dengan ajaran Islam, yang disini maksudnya adalah terdapat Hujjah yang mensyariatkannya. Untuk itu, kita tidak boleh terjebak pada sebuah amaliah yang hanya dilabeli dengan label “Islami” belaka, karena betapa banyak sekarang ini, yang diberikan label Islami, tetapi kenyataanya, justru substansinya jauh dari nilai Islam itu sendiri.
Jadi ketika terdapat sebuah perayaan ataupun amaliah-amaliah yang bernilai ibadah, kita perlu mengilmui terlebih dahulu, ada atau tidaknya Dalil Shahih yang mensyari’atkannya, begitu pula penting untuk mengetahui Syarah (penjelasan) dari para ulama jika hadits yang dibawakan adalah Hadits yang shahih, bisa jadi, dalilnya benar, tetapi dia salah dalam memahami maksud hadits yang dijadikan sebagai hujjah amaliah tersebut.

Betapa Nabiyullah Muhammad n telah memberikan peringatan kepada kita:
دعاة إلى أبواب جحنّم من أجا بهم إليها قذفوه فيها
“(akan muncul) Da’i-da’I yang mengajak ke pintu-pintu Jahannam, barangsiapa yang menyambutnya, pasti akan tercampakkan kedalamnya (neraka)”.
(HR Bukhari, Bab: Al Fitan).

Jika begitu keras tahdzir dari beliau terkait hal tersebut, maka sangat perlu bagi kita untuk mengetahui solusi dari permasalahan ini.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berwasiat kepada umatnya tentang jalan keluarnya, yakni:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
[رَوَاه داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح]

Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat“
(Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi, beliau berkata : hasan shahih)

Sebuah wasiat yang agung, yang mampu memberikan solusi di setiap permasalahan dari segala bentuk peribadahan. Dan patut pula kita menerapkan kaidah yang bisa kita jadikan sebagai pegangan:
لوكان خيرا لسبقونا إليه
Sekiranya perbuatan itu baik, tentu mereka (para shahabat) lebih dahulu melaksanakannya.
Jadi telah jelas, yang merupakan Syiar atau lambang atau tanda Islam adalah segala amaliah peribadahan yang didasari dengan landasan syariat yang shahih, karena segala bentuk peribadahan ini, terlarang dilakukan, melainkan ada Hadits shahih yang mensyari’atkannya.

عبداللّه بن مسعود رضي اللّه عنه: إتّبعوا ولا تبتدعوا، فقد كفيتم.
Abdullah Ibn Mas’ud radhiallahuanhu: Hendaklah kalian mengikuti (Rasulullah) dan janganlah kalian berbuat Bid’ah, Sungguh kalian telah dicukupi (dgn Islam ini).
(HR Ad Darimy I/69, Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah – al laalikaa’i)

Penutup.
Saudaraku Fillah (barokallahu fiikum)
Meski demikian, tidak boleh bagi kita dengan mudahnya mengecam para pelaku bid’ah (yang menganggap perayaan-perayaan bid’ah sebagai suatu bentuk syi’ar Islam) sebagai ahli bid’ah, sesat, ahli neraka dan lain sebagainya. Karena betapa banyak dari mereka para pengusung bid’ah tersebut, adalah merupakan orang-orang yang tidak juga paham tentang substansi sesungguhnya dari acara-acara yang mereka lakukan, mereka sangat membutuhkan dakwah kita, mereka harus dijelaskan tentang kebathilan amaliyahnya, tapi tentunya dengan cara yang hikmah, santun dan mengedapnkan akhlaq yang baik dalam kita berdakwah kepada mereka.
Indah sekali Nasehat yang telah disampaikan oleh Asy Syaikh Abdul Azis bin Baaz rahimahullah:
هذا الصر عصر الرّفق والحكمة، و ليس عصر الشّدّة. فالنّاس أكثرهم في جهل، في غفلة وإيثار للدّنيا فلابدّ من الصّبر، ولا بدّ من الرّفق حتّى تصل الدّعوة إليهم وحتّى يعلمون

“Zaman ini, zaman (berdakwah dengan) lemah lembut, sabar dan Hikmah (bijaksana), bukan zaman (berdakwah dengan) keras… Kebanyakan manusia tidak mengerti, lalai dan lebih mengutamakan dunia, maka haruslah sabar, haruslah dengan kelemahlembutan, sehingga dakwah itu bisa sampai kepada mereka dan mereka dapat mengetahui”

نَفَعَنِيَ اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِهَدْيِ كِتَابِهِ، وَبِسُنَّتِهِ نَبِيِّهِ
أقول قولي هذا وأستغفراللّه لي ولكم، إنّه هو الغفور الرّحيم

اللّهم لا علم لنا إلا ما علمتنا، اللّهم علمنا ما ينفعنا وزدنا علما وأصلح لنا شئننا كلّه ولا تكلنا إلى أنفسنا طرفة عين

و كتب، الرّا جي عفوربّه الغفور، أبوعبد المحسن محمّد طارق
19 Rajab 1433H // 29 Mei 2013 18:37 malam.

LPBA Imam Asy Syafi’i beserta anak yatim

LPBA YATIM

bismillah.
Takmir Masjid Sholihin bekerja sama dengan Yayasan R.NGt.T. Prawirodirdjo dan LPBA IMAM ASY SYAFI'I menggelar santunan anak yatim, dan alhamdulillah telah terlaksana tanggal 25 November 2012 // 11 Muharram 1434 H di masjid Sholihin.

Kami Ucapkan Syukron Jaziylan, wa JAZAAKUMULLAHU KHAIRAL JAZAA' bagi siapa saja yg telah ikut andil dalam mensukseskan acara sosial ini

KETIKA AL QUR’AN SEBATAS DIBACA

Bismillah.

syaikh abdurrazzaq bin abdilmuhseen al abbad al badr hafidzahullah.

Hendaklah seorang mukmin tahu bahwa bertambahnya keimanan yang ditimbulkan dengan membaca al-qur-an, tidak akan pernah terwujud kecuali bagi orang yang meperhatikan pentingnya memahami al-qur-an dan mengamalkannya. Bukan hanya dengan membaca tanpa memahami dan menghayatinya. Berapa banyak orng yang membaca al-qur-an sementara al-qur-an menjadi hujjah dan musuh besarnya pada hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi:
“sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini beberapa kaum dan menjatuhkan kaum yang lain (HR.Muslim,1/559)”

Beliau juga bersabda:
“Dan al-qur-an itu bias menjadi hujjah (yang bermanfaat) untukmu atau menjadi hujjah yang akan membinasakanm”
(HR. Muslim, 1/203)

Al-qur-an akan menjadi hujjah yang bermanfaat dan menambah keimanan jika anda mengamalkannya. Al-qur-an pun bias menjadi hujjah yang akan membinasakan bahkan bias mengurangi keimanan jika anda mengabaikannya dan melalikan petunjuk-petunjuknya.

Qatadah Rahimahullah berkata: “jika seseorang selesai menghadiri majelis al-qur-an,maka ia akan bertambah (keimanannya) atau berkurang” (HR.Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd (hal.272), al-Ajurri dlm Akhaaq Hamalatil Qur-aan (hal.73), al-Marwazi dlm Qiyamul Lail (hal.77 ringkasan), dan al- Baghawi menuturkannya dalam Tafsirnya (II/133)

Al-HasaN al- Bashri Rahimahullah berkata: keika menjelaskan makna tadabbur al-Qur-an
”…Demi Allah, tadabbur itu bukan menghafal huruf-hurufnya sementara petunjuknya dilalaikan. Seseorang yang berkata,’Aku telah membaca al-Qur-an semuannya dengan tidak meninggalkannya satu huruf pun,’demi Allah, dia telah meniggalkan semua hurufnya, karena al-Qur-an tidak terlihat di dalam akhlak dan amalnya. Walaupun seorang di antara mereka berkata,’sesungguhnya aku membaca satu surat (dari al-Qur-an) di dalam diriku (hafal di luar kepala),’demi Allah mereka bukan para ahli di dalam membaca al-Qur-an (Qurraa’), bukan para Ulama, bukan orang-orang bijak dan bukan pula orang-orang wara’. Seandainya para Qurraa’(ahli baca al-Qur-an) kriterianya hanya seperti mereka, niscaya Allah akan memperbanyak orang-orang seperti mereka.
(HR.’Abdurrazzaq dalam Mushannafnya (III/363), Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd (hal.274), al-Ajurri dalam Akhlaaq hamalatil Qur-aan(14), al-Marwazi dalam Qiyaamul lail (hal.76 ringkasan).

Semoga Allah ta’ala melimpahkan rahmat-Nya kepada al-Hasan rahimahullah. Apa yang akan beliau katakana jika melihat para Qurra’di zaman kita sekarang ini? Mereka telah terkena fitnah dengan berlabihan dalam melagukan, melafazhkan huruf dan memperindahnya, sementara mereka melalaikan petunjuk-petunjuknya. Orang-orang yang mendengar bacaannya hanya tertuju pada pelafazhan huruf dan lagunya, tanpa memperhatikan dan merenungkannya.

Saya tidak bermaksud menyalahkan sikap membaguskan pembaca al-Qur-an, memtartilkannya, melagukan, atau memperindah di dalam mengucapkan huruf-hurufnya dan dibuat-buat di dalam melagukannya, tanpa memperhatikan atau peduli akan segala perintah yang dengannya al-Qur-an di turunkan. Anda tidak melihat kebanyakan mereka mejadi orang yang wara’dengan menegakkan hokum Allah. Bahkan, anda pun tidak melihat dari mereka orang yang menegakkan al-Qur-an, baik dalam akhlak maupun dalam pengamalan.

Maka anda akan mendapati sebagian dari mereka, ada seorang hafizd (yang hafal) al-Qur-an yang bagus di dalam melafazhkan setiap huruf-hurufnya,akan tetapi jenggotnya dibersihkan atau celananya dipajangkan melebihi mata kaki. Bahkan ada yang melalaikan sholat secara keseluruhan, meninggalkan berjama’ah, atau melakukan berbagai kemungkaran yang lainnya. Bahkan salah seorang di anara mereka menjadikan bacaan al-Qur-an sebagai pembuka bagi acara nyanyian wanita-wanita fasiq. (!!!)

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Dia membaca ayat-ayat yang mulia sebelum nyanyian-nyanyian itu di lantunkan. Mahasuci firman Robb kita dari kotoran yang di lemparkan oleh orang-orang seperti mereka.

Ibnul’Arabi Rahimahullah berkata: ketika mensifati para Qurra’ di zamannya yang sibuk dengan melantunkan huruf-huruf al-Qur-an sementara mereka melalaikan aturan-aturannya,bahkan perbuatan tersebut di jadikan sebagai sebuah profesi, padahal al-Qur-an di turunkan untuk di amalkan. Beliau berkata,

”Semenjak bacaan tersebut menjadi sebuah profesi, maka mereka menyuarakannya dan berlomba dengannya. Mereka menghabiskan umur-umur meraka –sementara mereka tidak membutuhkannya- hanya untuk melakukan hal itu. Salah seorang di antara mereka meninggal dan telah menegakkan al-Qur-an sebagaimana sebuah gelas ditegakkan, yakni hanya sebatas lafazh, dan dia telah memecahkan sebuah wadah, tidak ada satu makna pun yang melekat pada dirinya.”
(Al-‘Awaashim minal Qawaashim(II/486) dalam kitab Aaraa’Abi Bakr bin al-‘Arabi al-Kalaamiyyah, karya ‘Ammar ath Thalibi).

Ibnul Qoyyim Rakhimallah telah menuturkan kaidah yang sangat agung dan besar manfaatnya di dalam masalah ini, yakni, “Jika anda hendak mengambil manfaat dari al-Qur-an, maka satukanlah hatimu ketika membaca dan mendengarkannya. Pasanglah pendengaran anda dan hadirlah seperti kehadiran orang yang diajak berbicara langsung oleh AllahAzza wa jalla”
(Al-Fawaa-id (hal.5), dan lihat al-Fataawaa Ibni Taimiyyah (XVI/48-51)dan(VII/236,237).

Barang siapa melaksanakan kaidah ini dan berjalan dengan manhaj (metode) seperti ini ketika membaca dan mendengarkannya, maka ia akan mendapatkan banyak ilmu beserta amal sekaligus. Imannya akan bertambah dan kuat sekuat gunung yang amat tinggi. Hanya kepada Allah kita memohon semoga kita diberikan pertolongan untuk malakukannya, dan untuk segala kebaikan.

diketik dari kitab asbab ziyadatul iman wa nuqsanihi.

(terj. Pasang surut keimanan, karya asy syaikhuna, abdurrazzaq bin abdulmuhseen al abbad al badr hafidzahullah. Pustaka Ibnu Katsir)

Abu abdilmuhseen.