Pic Whatsapp / Line

Silahkan kalo hendak share Pic ini di Whatsapp, line atau facebook…لا تشق Jagalah Lisan jalan keluar Kebahagiaan khawatir dosa

Bersabarlah atas pahitnya menuntut ilmu

Nadhom di dalam gambar, karya Al Imam asy syafi’i rahimahullah,..
terinspirasi dari ustadz Abdul Kholiq ketika menyampaikan pelajaran, beliau menukil nadhom tersebut,..

—————————————
barangsiapa yang ia tidak merasakan pahitnya menuntut ilmu, maka ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hayat
—————————————

allahu a’lam.Ngaji

Perjalanan Menuju Hari “esok”

Bismillah,…
Setiap kita, dalam kesehariannya, berjalan menuju Rabbnya,..dan ia memiliki tujuan yang pasti akan dia tempati… maka, sekiranya ia benar-benar memperhatikan hal tersebut, bahwa ia akan berjumpa dengan Sang Penciptanya,maka hendaknya dia berusaha menjadikan Rabbnya, ridha terhadapnya… dan benar-benar mampu menjadikan dunia tempat ia berpijak ini, sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan yang hakiki…

Saudaraku fillah,..

Ketahuilah, bahwa ketika engkau menyia-nyiakan waktu yang ada ini, bearti hal tersebut lebih buruk daripada kematian,.. karena, kematian hanya memutus engkau dari dunia dan penduduknya,.. tetapi menyia-nyiakan waktuberarti telah memutusmu dari Allah dan negeri Akhirat… (nas alullaha salamanwal afiyah)…

Al Imam Hasan Al Bashri rahimahullah:
ابن آدم، انّما أنت أيّام وكلّما ذهب يوم ذهببعضك

“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian darimu” (Az Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal, 374)

dunia ini, yang kita tempati,.. tiada sebanding dengan kesedihan di negeri“esok”… lalu bagaimana kiranya jika kesedihan di hari “esok” ituberlama-lama??? Atau bahkan kekal abadi selamanya??

Sebuah keberuntungan yang sangat besar, ketika engkau mampu menjadikan setiap harimu menjadi hal yang bermanfaat bagi akhiratmu nanti…karena orang yang berakal adalah dia yang tidak mau menukar kenikmatan sesaatdengan kenikmatan yang abadi selamanya…

والاخرة خير وّابقى

Saudaraku fillah,..
Takutlah terhadap MurkaNya, AdzabNya.. dan berharaplah terhadap rahmatNya…
karena ketika kita mampu mejadikan Takut kepada Allah dalam setiap keadaan,maka kita akan merasa tenteram, dan akan terus berusaha mendekat kepadaNya..yakni dengan Ilmu, yang membuahkan keikhlasan dalam beramal shalih dan dalamketaatan…

Masruq bin Ajda’ bin Malik (Tabiin W. 63 H) rahimahullahberkata:

بحسب لامؤمن من الجحل أن يعجب بعمله،وبحسب المؤمن من العلم أن يخشى اللّه

“Cukuplah seorang mukmin itu dikatakan bodoh bila dia merasa takjub dengan amalannya, dancukuplah seorang mukmin itu dikatakan berilmu bila ia takut kepada Allah azzawa jalla” (Sifatush Shafwah, Ibnul Jauzy, III/25)

Seandainya ilmu itu dapat bermanfaat tanpa adanya amalan shalih,.. tentunya Allah ta’ala tidak akan mencela Ahlul Kitab, yang dia tidak mengamalkan ilmu yang dia peroleh,.. dan sekiranya amal itu bermanfaat tanpa adanya keikhlasan,.. maka tentunya Allah azza wa jlla tidak akan mencela kaum munafik,..

Saudaraku fillah,..

bersamaan dengan hal tersebut,.. saya wasiatkan:

untuk menjauhi berbagai dosa dan kemaksiatan,.. dan berbagai sarana-sarana yang mampu mengarahkesana,.. dan lawanlah apa yang terbesit sedikit saja di dalam hatimu; berupakeinginan berbuat dosa tersebut… karena jika tidak, IA AKAN MENJADI PIKIRAN…

lawanlah pikiran tersebut, karena jika tidak, IA AKAN MENJADI SYAHWAT…

lawanlah syahwat tersebut, wahai saudaraku fillah,… karena jika tidak, IA AKAN MENJADI KEBULATAN TEKAD…

lawanlah kebulatan tekad tersebut,… karena jika tidak, IA AKAN BERUBAH MENJADI TINDAKAN NYATA…

Al Imam Hasan Al Bashri rahimahullahu ta’ala berkata:

إنّ المؤمن لا يسبح إلاّ خا ئفا ولا يصلحه إلا ذاك، لأنّهبين ذنبين: ذنب مضى لا يدري كيف يصنع اللّه فيه، وآجل، أو قال: آخر لا يدري ما كتبعليه فيه.

“Sesungguhnya seorang mukmin tidak memasuki waktu pagi, melainkan dalam keadaan takut, dan memang seharusnya demikian, karena dia diantara dua dosa; Dosa yangtelah lalu, dimana dia tidak mengetahui apa yang akan Allah ta’ala perbuat atasdosa tersebut, dan Dosa yang akan datang, dimana dia tidak mengetahui apa yang telah Allah ta’ala tetapkan karena dosa tersebut”.

(Az Zuhud, Imam ahmad binhanbal 375)

Maraji’:

Al Fawaid, Ibnu Qoyyim al Jauziyyah.

Az Zuhd, Imam Ahmad Bin Hanbal

Shifatush Shafwah, Ibnul Jauzy

Demikianlah, Semoga kita bisa mengambil pelajaran…

و كتب، الرّا جي عفوربّه الغفور، أبوعبدالمحسن محمّد طارق

غفرالله له ولوالديه ولجميع المسلمين

PETAKA ITU BERNAMA UJUB

Bismillah…

berhati-hatilah terhadap perangkap Iblis,…korban dari godaan ini begitu banyak,.. salah satunya adalah;

IA YANG MENYUKAI PUJIAN BERSIFAT TINDAKAN!

ada yang datang dari sisi tersebut, ada pula yg datang dari sisi KECINTAAN KEPADA PUJIAN YANG BERUPA PERKATAAN!,..

dia yang dipuji, sadar benar, dia lebih tahu hakekat tentang diri mereka sendiri,..

tetapi panah UJUB, telah merasukinya, dia telah tertipu,.. dia telah terlena!

ada sebagian kita yang dia tampil seakan-akan sebagai pemberi nasehat yang dipercaya, yang mengetahui adab dunia dan agama.

Lihatlah pada diri kita,..apakah kita termasuk menjadi orang yang senang, membusung dadanya, tersenyum-tersenyum sendiri, ketika apa yang kita utarakan entah berbentuk tulisan atau ucapan mendapatkan PUJIAN???

tetapi ketika yang menghampiri kita berupa kritikan, nasehat, maka keadaan akan berubah drastis…

dada akan terasa sesak, nafas tersenggal,… sehingga berujung pemutusan hubungan pertemanan (entah itu di dunia ata di dunia maya)…

setiap orang diantara kita, bahkan akan memujinya, menyematkan kata kata sanjungan,.. seakan-akan mereka hanya melihat kebaikan-kebaikan,..

ketahuilah, jurang perangkap Iblis bisa berawal pula dari sini,… sehingga perangkap ujub menjebak kita…

alhasil, segala apa yang hendak diutarakan, orientasinya adalah keridhaan manusia,.. karena telah terkena perangkap syahwat tersebut…

 

Saudaraku, pahamilah perkataan para salafuna Shalih terdahulu ini, barangkali bisa menjadi secerah nasehat..

Fudhail Ibn Iyadh rahimahullah: ” Sesungguhnya diantara tanda orang MUNAFIK adalah MENYUKAI PUJIAN KARENA SESUATU YANG TIDAK ADA PADA DIRINYA, dan MEMBENCI KRITIKAN KARENA SESUATU YANG ADA PADA DIRINYA, SERTA MEMBENCI ORANG-ORANG YANG MENGETAHUI DENGAN MATA KEPALANYA” ((Al Akhfiya’ 155)

Bisyr Ibn Al Harits rahimahullah: “Orang yang menyukai popularitas, bearti bukan orang yang bertaqwa kepada Allah ta’ala” (Nuzhat al Fudhala’)

Ibnul Jauzy rahimahullah: “Jujurlah dalam batinmu niscaya engkau akan melihat apa yang engkau sukai menurut lahirnya” (Al Bilal, Minhaj at tabi’in)

Yusuf Ibn Asbath rahimahullah: “Tiada sesuatu yang benar-benar ingin diselesaikan oleh orang yang beribadah, selain menghindari kesukaan dipuji, dan menginginkan sanjungan manusia” (Dzamm Ar Riya’)

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah: “Jika engkau tdk ujub terhadap dirimu sendiri, maka janganlah engkau menyukai pujian manusia. Karena dengan pujian mereka itu, berarti engkau suka jika mereka memuliakan dirimu karena amalmu, dan merekapun melihat adanya kedudukan dan kemuliaanmu yang terpatri di dada mereka” (Shara’i al Mada’ih Al Khams) 

Abdullah bin Mubarak juga pernah berkata, ‘Jadilah orang yang  menyukai status tersembunyi (tidak terkenal) dan membenci popularitas. Namun jangan engkau tampakkan bahwa engkau menyukai status tesembunyi itu sehingga menjadi tinggi hati. Sesungguhnya klaim sebagai orang zuhud yang berasal dari dirimu sendiri, justru mengeluarkanmu dari kezhuhudan itu sendiri. Karena dengan cara itu, kamu telah menarik pujian dan sanjungan untuk dirimu.’ (Shifat ash Shafwah)

Saudaraku fillah…Sungguh Allah Azza wa jalla menyukai orang-orang yang bertaqwa, dan gemar melakukan amalan shalih..

yang mana bila ia tidak hadir, ia tidak dicari,…

jika ia hadir, ia tidak dikenal ataupun diperhatikan

 

mereka adalah pelita petunjuk yang keluar dari tempat yang gelap..

karena jika apa yang menjadi tujuanmu adalah mencari keridhaan Allah ta’ala,..

maka, kuatkan tekadmu untuk mentaati Allah azza wa jalla,.. dan bertaqwalah engkau kepadaNya, dalam keramaian, ataupun kesendirianmu…

Lihatlah betapa uwais Al Qorony rahimahullah dikenal oleh penghuni langit, tetapi beliau tidak dikenal oleh penghuni bumi,… jadilah sepertinya…

sehingga penyakit ”Ujub akan dengan mudah kita tepis (biidznillah)…

Wahib ibn Al Ward rahimahullah: “janganlah engkau mencaci Iblis secara terang-terangan tetapi engkau menjadi temannya secara sembunyi-sembunyi, apakah engkau ingin mencari pujian di hadapan manusia? sementara engkau dicela Rabb Manusia? apakah engkau ingin dicintai penghuni bumi, sementara penghuni langit membencimu??” (Shifat ash Shafwah) 

Yaa Allah sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari kejahatan diri kami. Yaa Allah, sucikanlah hati kami dari kemunafikan dan amal kami dari riya’

refrensi:

Al Akhfiya’Walid ibn Sa’id bahakam

BETAPA MERUGINYA…

bukan sebuah keanehan di negeri Iran ataupun Irak,…

atau pula keajaiban laut mati…

tapi sebuah keanehan, manakala engkau melihat seseorang…

yang dia mengetahui sebentarnya di dunia,..

namun ia melupakan liang lahat dan setelahnya (hari akhir)…

ia lupakan pembalasan setelahnya..

Duhai, betapa singkatnya perjalanan ini…

bekal ini teramat sedikit,… tapi jauhnya perjalanan ini nanti…

begitu banyak kesalahan yang dikumpulkan..

tiap saat tiap waktu…

dikalahkan ego nafsu dan angkara…

ketahuilah saudaraku (rahimakumullah…)

engkau akan terbungkus kafan,..

engkau akan dishalati, dengan shalat tanpa ruku’..
tidak pula adanya sujud,… (semoga Allah ta’ala merahmatinya)
engkau akan dipapah menuju pembaringanmu di lahat,..

sendiri.. tiada yang menemani,..

mana hartamu?? mana jabatanmu?? mana istrimu, mana pula anak-anak yang engkau banggakan itu??

stelah engkau pergi, hartamu- hartamu.. akan mereka bagi-bagi…
tinggalah engkau sendiri…
bersiap menemui utusanNYA..

engkau kini bersiap menghadapi ujian…

ujian yang engkau tidak mungkin bisa mereka-reka jawabnya,..
“Man Robbuka?”
Wa maa diinuka?”
Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?”

sungguh betapa meruginya diri ini,..

ketika engkau menyia-nyiakan waktumu dengan kesibukan dunia yang tidak berfaedah…
saudaraku,.. janganlah tergoda dengan dunia ini,..
sekarang..
ketika Nikmat Allah berupa kehidupan ini masih melekat…
berusahalah mengumpulkan kebajikan,..
berusahalan menebar benih ketaatan,..

karena itulah bekalmu,..
bekal di perjalanan panjangmu,..
(semoga Allah Ta’ala melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita)

و كتب، الرّا جي عفوربّه الغفور، أبوعبدالمحسن محمّد طارق
غفرالله له ولوالديه ولجميع المسلمين
21 Des. 2013 // 18 Safar 1435 H

Sudikah engkau membaca kisah ini?

Bismillah…
dari seseorang yang tidak disebutkan namanya, dan mungkin kita tidak membutuhkan siapa nama orang tersebut, karena yang utama adalah kita mampu mengambil setiap hikmah dibalik pelajaran ini…

————————————————-

Sore itu,, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku.

Kemudian akhwat itu bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman..

ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

 
“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya.
Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya
“Mbak kerja di mana?”, entahlah keyakinan apa yang meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.

“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya.

Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing . Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah”.
Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk di luar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”
 
Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.
“Anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan umi ridho”, begitu katanya. Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja . Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”

Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
“Kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia maremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membanguni saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan. Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”.

Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.
Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya.
Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….
Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.
Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..
Subhanallah..
Semoga pekerjaan, harta tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.

*dari Blognya salafusholih
jazakumullahu khairan

DUA JENIS WANITA

Wahai pemuda, ketika engkau keluar dari rumahmu, engkau akanmenjumpai dua jenis wanita:
Wanita yang pertama adalah yang telah tercemari Virus Imro’atul azis (istriRaja)*1 yang menampakkan perhiasannya, semerbak bau minyak wangi tercium harumdarinya, seakan-akan ia mengatakan kepadamu: “kemarilah engkau wahai parapemuda…”

Maka dalam kondisi seperti ini, contohlah sikap Nabi Yusuf alaihi salam,palingkan pandanganmu seraya engkau mengucapkan:ma’aadza-llahi (aku berlindungkepada Allah).

Jenis wanita yang kedua, adalah wanita yang menjaga diri dan kehormatannya, iaberjalan dengan penuh rasa malu, keluar rumah disebabkan kebutuhan yang memaksaia harus keluar dari rumahnya…

Jika engkau wahai pemuda melihatnya seperti pada saat ianaik bus, maka tirulah sebagaimana sikap nabi Musa alaihi salam, bantulah ia,berdirilah dan suruhlah ia duduk di tempat dudukmu KEMUDIAN BERPALINGLAHDARINYA…*2

Jika engkau melakukan yang demikian, maka kabar gembiratelah menantimu dengan kebaikan,…

lihatlah bagaimana nabi yusuf alaihi salamketika beliau menjaga diri dan kehormatanya akhirnya Allah azza wa jallamenjadikannya sebagai penguasa setelah sebelumnya ia seorang budak.

Begitu juga sifat mulia lagi suka membantu yang dimilikinabi Musa alaihi salam, yang dengannnya Allah ta’ala memberikan kepadanyaseorang istri, kedudukan dan tempat tinggal padahal sebelum itu ia adalahseorang yang paling fakir.

 

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

*1 Wanita yang tercantum dalam QS Yusuf yang ingin menggoda Nabi Yusuf Alaihis salam
*2 Silahkan baca QS Al Qashash ayat 22 dan seterusnya.

Maraji’ : Adz Dzakiroh al islamiyah Hal. 83